October 8, 2005

surat buat tina

Filed under: macem - macem

Maaf untuk diriku sekiranya [mungkin] masih susah untuk kau haturkan. Namun sedikit untaian huruf dan senarai kata dalam tulisan ini setidaknya dapat sebagai awal dari janji yang pernah aku ucapkan dan tuliskan kepada-mu untuk mengirimkan tulisan tanganku melalui surat yang hingga detik ini [ternyata] masih tersimpan di kamarku dengan alasan yang belum bisa kumengerti.

Tulisan berikut ini khusus untuk salah seorang sahabat terbaikku [yang hingga saat ini tetap belum berubah, tetap sebagai salah satu sahabat terbaikku],

CHRISTINA R. NAYOAN

Sedikit bernostalgia dengan kilatan memori masa lampau, menelusuri jejak perjalanan nafas hingga detik ini membuatku mengecap sedikit perasaan haru dan takjub akan berbagai hal yang pernah dipahatkan ke dalam cadas ingatan hamba-Mu ini. Perasaan inilah yang mengantarkan keinginan-ku saat ini untuk kembali mem-”bayar” hutang kepada salah seorang sahabat baikku yang takkan pernah aku lupakan.

Salam buat kamu Na, semoga keadaan kamu selalu jadi yang terbaik.

Maaf kalau baru saat ini aku tuliskan surat ini untuk kamu. Tujuan-ku buat tulisan ini lebih untuk menghormati keberadaan kamu, serta sedikit “membayar” hutangku untuk menuliskan beberapa percik senarai kata untuk kau baca. Surat kamu ternyata hingga saat ini belum terkirimkan. Mohon maaf ya na, sekali lagi maaf. Aku kira surat itu sudah terkirim, tapi ternyata masih terselip di tengah-tengah tumpukan berbagai dokumen yang ada di kamarku. aku pasti [insya ALLAH] akan mengirimkan surat yang sebenarnya, tulisan tangan-ku sendiri, khusus untuk kau baca, tapi setidaknya tulisan ini dapat menjadi sedikit pengantar untuk mengingatkan bahwa seorang Didik Achmadi masih mengingatmu tanpa terkecuali seperti masa dahulu.

Semoga kamu tetap menjadi wanita yang secara penuh bisa mengabdikan berbagai cakupan ilmu yang telah kau pelajari sebelumnya serta mengamalkannya demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat sekitar serta lingkungan yang jauh lebih luas. Aku sangat yakin, dengan kemauan dan kemandirian yang telah kau tunjukkan, serta ditunjang kecerdasan alamiah yang kau miliki, pasti mahasiswa-mu bisa mendapatkan ilmu dengan cara mereka sendiri.

Hampir tiga tahun sepertinya sejak keberangkatanmu ke daerah timur negara ini pertama kalinya. Tidak terasa telah berpuluh purnama melewati masa-masa tersebut, pasti banyak hal telah terjadi selama perjalanan mengiringi tapak langkah sang waktu, lengkap dengan segala ungkapan tawa, tangis, jerit dan gejolak hati yang tak terhitung banyaknya bila dibandingkan dengan setiap lekuk dan tonjolan di tubuh kita [jangan berpikir yang bukan-bukan yah.. :p].

Kilas terakhir pertemuan kita masih dapat aku ingat dengan jelas tanpa perlu berkerut kening dan menggaruk-garuk kepala. Namun fragmen-fragmen yang kita perbincangkan saat itu mulai lepas satu persatu dari lembar sel memori di otak yang semakin tua ini. Tua ?? ya, kita bertambah tua kan, semakin berkurang umur kita, semakin bertambah kedewasaan diri kita [semoga… ] ………………

Satu hal yang perlu untuk diketahui adalah saat ini sebagian beban besar bernama “perkuliahan” sudah melepaskan cengkeraman dirinya dari “sukma” ini. Amanat orang tua [yang sebenarnya kurang aku sukai iklimnya] telah berhasil aku selesaikan, meskipun langkahnya terbilang “tidak lazim” bagi orang-orang pada umumnya. Namun begitu, aku sangat menikmati ketidaklazimanku selama ini, aku yakin dengan pasti bahwa segala hal yang tidak lazim, atau bahkan yang kurang lazim di masyarakat akan mendapatkan persepsi yang [sebagian besar] cukup miring di mata dan impuls pikiran orang-orang tersebut. Bahkan, aku selalu mendambakan untuk menjadi sosok yang tidak lazim di tengah-tengah masyarakat luas.

Tapi kenapa ?? kenapa Didik mau menjadi orang yang “tidak lazim” ?? Sering sekali pertanyaan tersebut melintas menghujani aliran informasi di panca inderaku. Mungkin kamu sendiri juga akan mengungkapkan pertanyaan seperti itu (correct me if i’m wrong / CMIIW) :p. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, aku minta kamu sedikit mengulang lintasan film di ingatanmu yang berisikan tentang seorang rakyat jelata bernama “Didik Achmadi”. Ingat -ingatlah berbagai fragmen kecil yang mengisyaratkan bahwa sahabatmu ini [mungkin] dipersiapkan untuk menjadi orang yang “kurang lazim” di tengah - tengah budaya mapan di masyarakat. Ingatlah bahwa sobatmu yang fakir ilmu ini terkadang mengungkapkan sesuat dengan cara pandang yang mungkin terbilang “nyeleneh” dan terlalu bersifat hiperbolis. Ingatlah berbagai kejadian tersebut, karena hanya orang-orang yang mampu untuk mencermati langkah-ku lah yang pasti akan memahami ketidaklazimanku. Aku yakin nurani-mu dapat menjawab pertanyaan tentang ketidaklazimanku, karena ketulusanmu selalu dapat aku andalkan hingga saat ini, meskipun jarak dan waktu interaksi kita sangatlah panjang tapi aku tetap dapat merasakan ketulusan nuranimu hingga saat ini.

Hingga detik ini aku masih berusaha untuk mewujudkan salah satu impianku untuk menjadikan kondisi pendidikan di negara ini menjadi lebih baik dengan segala ilmu dan kemampuan yang telah aku miliki. Kenapa pendidikan ? karena aku yakin sepenuhnya bahwa bangsa ini dan segala isinya sebenarnya adalah sebuah berlian kasar, berlian yang terpecah-pecah dan terbungkus berbagai kerak kotor yang telah melekat erat, bahkan hampir menjadi satu dengan inti keindahan tiada tara tersebut. Kamu masih menjadi pendekar pendidikan kan Na ? kalau masih , berarti kita masih berada di jalan yang [mungkin] searah, semoga saja untuk waktu-waktu mendatang kita bisa saling membantu, menyumbangkan kemampuan kita satu sama lain, semoga…………………………

Cara yang aku tempuh dalam mewujudkan misi-ku ini masih terbilang baru untuk takaran pola pikir masyarakat luas saat ini, bahkan aku pernah ditertawakan dan dikatakan mustahil saat mencoba menceritakan sedikit buah pikir-ku ini kepada salah seorang kawan baik. Tapi aku yakin, suatu saat nanti hal-hal inilah yang akan menjadi dasar setiap tindakan kita, hal-hal tersebut akan menjadi nafas kehidupan kita sehari-hari. Kelak karya ini bukan merupakan sesuatu yang harus ditakuti, bahkan akan menjadi nafas kehidupan setiap orang di dunia.

Mungkin untuk saat ini sedikit “curah pikir” yang sekedarnya ini dapat mengawali silaturahmi kita yang sempat terputus untuk waktu yang sangat lama sekali. Sebagai penutup aku mengucap maaf , maaf dan sekali lagi maaf untuk segala kealpaanku [yang masih tetap belum berubah] akan segala hal yang mungkin saja membuat hatimu menjadi tergores, bahkan terluka.

Salam hangat selalu, juga untuk belahan jiwamu [Tini] serta seluruh keluarga besar dan sahabat-sahabatmu.

Didik Achmadi

16 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://achmadi.blogsome.com/2005/10/08/surat-buat-tina/trackback/

  1. putus lagi cintaku…
    putus lagi cintaku…
    kecek…kecek…*sambil mainkan tutup botol*

    Comment by Junkerz side B — October 8, 2005 @ 10:13 pm

  2. putus ?? apanya yang putus ???

    Yee… dasar banzai junker sok tahu
    *injek2 fahmi*

    Comment by achmadi — October 9, 2005 @ 3:54 am

  3. ck..ck..ck.. sing sabar yhoo.. emang mampune isih semono kok, nek dinesuni wajar wae, njaluk ngapuro saperlune ojo munduk munduk.. Smoga Ramadhan tahun ini berarti -=BeWare of Girls=-

    Comment by dodi — October 9, 2005 @ 7:39 am

  4. udah nyatakan saja!
    *ndak baca semua, panjang amat sih*
    hihihii…
    Dik, lumpia-ne kapan tekan mBandung kie?

    Comment by endhoot — October 9, 2005 @ 11:05 am

  5. lumpia ??? entar aku tanya dulu ya ndhoot, kalo dikirim pake paket sampe masih enak apa kagak…

    address please :D

    Comment by achmadi — October 9, 2005 @ 11:42 am

  6. hareee…gene… masih surat - suratan? kawin sonoh…

    *cuwek*

    Comment by Azil Adi Permana Ph.D. — October 9, 2005 @ 4:28 pm

  7. kepanjangan, ntar lagi deh ya bacanya !

    Comment by odir — October 12, 2005 @ 7:57 am

  8. Benar, untuk saat ini cuma pendidikan yang bisa menyelamatkan (masa depan) bangsa ini. Setiap usaha, seberapapun kecilnya, untuk memajukan pendidikan di negeri ini pasti akan bermanfaat. Jadi ingat waktu Tim olimpiade Fisika Indonesia dikritisi, para pembinanya selalu menekankan: “Believe me, we are going to save the nation.”

    Comment by dhani — October 12, 2005 @ 4:43 pm

  9. aduh!
    lumpianya enak tuh!

    *slaah pkous*

    Comment by didats — October 12, 2005 @ 5:29 pm

  10. terlalu dalam utk diberi komen! sabar yaa….

    Comment by dodY — October 14, 2005 @ 9:12 am

  11. masih adakah “surat buat tina jilid 2″ ? :D

    Comment by lowo puasa — October 15, 2005 @ 2:35 am

  12. Wis… gak usah kesuwen mas, langsung wae. :D

    Eh, kapan nih ke malang.
    Bawa lumpia yang banyak ya..

    Comment by vnuzday — October 15, 2005 @ 1:15 pm

  13. Suratnya indah banget.., ya dibutuhkan para pendekar pendidikan yang berdedikasi tinggi untuk bisa merubah negeri ini..

    Comment by Lif — October 15, 2005 @ 4:52 pm

  14. jualan lumpia ya?
    mau dooooong lumpiaaa
    gua suka banget lumpiaaa
    huaaaa

    *cuma fokus di bagian lumpia hihih*

    Comment by bLub — October 19, 2005 @ 5:47 am

  15. isi suratnya dalam banget Dik….

    Comment by Nev — October 23, 2005 @ 12:02 pm

  16. Mas….
    Jangan banyak kata tapi kurang makna…
    langsung saja proklamasi “Oh….Menikahlah denganku”

    Comment by tomboati — November 1, 2005 @ 1:48 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Template ini dibikin oleh orang laen. Tapi dipake oleh Didik Achmadi

Mo kirim e-mail ? Ke achmadi@gmail.com aja....