October 30, 2005
Lawang Sewu ? Apakah yang pertama kali terpikir di benak anda semua bila mendengar kalimat ini ? Bilakah anda langsung teringat pada suatu makanan nikmat ? Atau mungkin pikiran anda langsung tertuju pada sosok seseorang ? Bila pertanyaan ini tertuju kepada saya, jawaban saya [mungkin] akan bersinggungan dengan tempat horor, angker, eksotis dan indah. Ya, indah sekaligus mistis, kenapa ? Kenapa harus saya katakan hal-hal seperti itu ? karena ini adalah kenyataan. Entah percaya atau tidak tergantung anda menyikapinya [agak sedikit mirip dengan suatu slogan tayangan misteri di salah satu stasiun televisi rupanya :p]
Lawang sewu merupakan salah satu sosok bangunan yang berdiri tegak, tegar menatap perkembangan kota Semarang. Letaknya tepat di jantung utama kota tersebut, di salah satu sisi persimpangan Tugu Muda, strategis, terbuka luas dan mudah sekali menemukannya [kalau sampai kesasar kebangeten banget
]. Tempat ini secara hukum berada di bawah kekuasaan dinas PJKA [kelihatannya sekarang instansi ini berubah nama menjadi perum atau persero]. Bangunannya tegak berdiri selama [mungkin] seabad lebih, dibangun oleh bangsa Belanda yang sempat merasakan nikmatnya bumi Nusantara.

Kenapa dinamakan Lawang Sewu ? Lawang Sewu terdiri dari kata Lawang dan Sewu. Lawang artinya adalah pintu, dan Sewu berarti seribu. Bila diartikan secara harfiah menjadi Seribu Pintu. Entah siapa yang menamakan bangunan tersebut dengan Lawang Sewu, yang jelas nama tersebut tetap lekat hingga saat ini. Dari namanya jelas komponen pintu menonjol, karena pintu yang terdapat di ruangan ini sangat banyak [penulis belum pernah menghitung secara pasti]. Kabarnya, dulu bangunan ini adalah bangunan untuk pengurusan administrasi dan kemiliteran bangsa Belanda yang ada di Semarang.
Bangunan Tugu muda terbuat dari campuran bata, semen, pasir, kayu [jati tentunya], sebenarnya komponen dasarnya biasa saja, seperti bangunan saat ini. Namun ada beberapa yang membedakannya dengan bangunan-bangunan kontemporer, diantaranya adalah kualitas bahan bangunan, desain, serta tentu saja kualitas pengerjaannya. Saya teramat sangat sanksi bila saat ini orang Indonesia memiliki dedikasi yang sama seperti dengan “rasa” serta kualitas seperti lawang sewu. Setelah sekian lama, masih tetap tegak, dengan bahan yang relatif belum berubah [hanya perbaikan kosmetik di beberapa lapisan luar saja]. Lantai yang digunakan masih tetap sama, pondasi yang menopang keseluruhan bangunan belum banyak berubah, panel jendela dan pintu [sebagian besar] masih relatif sama, bahkan material untuk teras belum berubah, mungkin hanya mengalami pengecatan di sana sini.
Struktur bangunan terdiri dari dua buah lantai, ruangan bawah tanah, serta beberapa bangunan yang berdiri terpisah [kelihatannya sekitar 4 buah bangunan kecil mengelilinginya]. Lantai pertama [akhir-akhir ini] kadang-kadang digunakan untuk menyelenggarakan ajang eksibisi, namun lantai kedua dan lantai bawah tanah biasanya tertutup untuk umum. Bangunan-bangunan penunjang yang mengelilinginya dibiarkan terbengkalai, kecuali salah satu bangunan yang terletak di sisi timur yang digunakan sebagai tempat tinggal.
Kondisi bangunan secara umum menurut penilaian saya masuk ke kategori memprihatinkan hingga sangat memprihatinkan. Mengingat kebesaran namanya yang disandang hingga kini, bangunan ini sangat tidak terawat, perawatan yang diberikan tidak sebanding dengan nilai historis yang terdapat disana. Kaca jendela yang terbuat dari kaca sudah banyak [sekali] yang pecah, beberapa pintu sudah rusak, rumput yang tinggi dan tak terawat di sisi tengah maupun belakang bangunan, lantai yang kotor dan kusam. Bahkan ada ruangan di sisi belakang di lantai satu yang difungsikan sebagai kandang ayam, ya…. kandang ayam. Saya sangat terkejut dan heran dengan kondisi tersebut.
Pada awal mula tulisan ini saya mengatakan secara implisit bahwa Lawang Sewu menyimpan nuansa mistis, hal ini bukan merupakan opini pribadi melainkan kenyataan yang sudah dibuktikan oleh berbagai pihak. Pemirsa tayangan misteri Dunia Lain yang ditayang kan di TransTV mungkin pernah menyaksikan uji nyali yang dilakukan di bangunan ini dan hasilnya peserta yang bersangkutan gagal untuk menyelesaikan tugasnya. Pada tayangan tersebut terlihat sosok bayangan menyerupai wanita berambut panjang dengan pakaian putih yang datang mendekat ke peserta uji nyali tersebut. Sosok tersebut terlihat jelas di rekaman video. Selain itu banyak sekali kejadian [kebanyakan masih berupa cerita] mistik yang disaksian oleh orang-orang di sekitar area Lawang Sewu.
Pernah tersiar kabar bahwa Lawang Sewu akan dijadikan hotel beberapa tahun silam, namun sepertinya hal tersebut tidak pernah terlaksana. Faktor penyebab tidak terlaksana pembangunan tersebut juga tidak jelas hingga sekarang [mungkin ada yang bersedia menambahkan ?].
Ada beberapa hal menarik sehubungan dengan Lawang Sewu, diantaranya adalah adanya lorong yang menghubungkan antara Lawang Sewu, SMAN 3 Semarang [di Jalan Bodjong atau Pemuda] dan SMAN 1 Semarang [jalan Mentri Soepeno]. Lorong tersebut digunakan oleh para pejuang kemerdekaan untuk lolos dari kejaran musuh. Pada saat saya menanyakan hal tersebut dengan salah satu orang yang “tahu banyak”, dia mengatakan bahwa lorong tersebut telah ditutup dan tidak diketahui keberadaannya. Sayang sekali bila hal tersebut tidak terdokumentasi dengan baik. Karena aset sejarah semacam ini sangat langka di dunia, mungkin bila para profesional dunia film berniat untuk mengangkatnya ke layar kaca ataupun layar perak dengan sedikit tambahan cerita yang kuat, pasti akan berpengaruh banyak.
Belum lagi mengenai kisah tengkorak yang ditemukan di salah satu ruangan bawah tanah yang [kabarnya] berjumlah sangat banyak, kemudian kisah pembantaian serta kekejaman perang yang pernah terjadi di bangunan ini. Bila ada saksi sejarah yang bersedia menceritakan berbagai hal tentang bangunan ini, saya dengan sangat senang hati untuk mempublikasikannya di Internet.
Btw, saya pernah memasuki area bawah tanah yang digunakan pada prosesi uji nyali dan berbagai kejadian buruk masa lalu tersebut, memang kondisi ruangan tersebut cukup membuat nyali kecut. Untuk deskripsi ruangan bawah tanah tersebut, mungkin akan saya kemukakan nanti. Silakan tunggu tulisan berikutnya :p
October 8, 2005
Maaf untuk diriku sekiranya [mungkin] masih susah untuk kau haturkan. Namun sedikit untaian huruf dan senarai kata dalam tulisan ini setidaknya dapat sebagai awal dari janji yang pernah aku ucapkan dan tuliskan kepada-mu untuk mengirimkan tulisan tanganku melalui surat yang hingga detik ini [ternyata] masih tersimpan di kamarku dengan alasan yang belum bisa kumengerti.
Tulisan berikut ini khusus untuk salah seorang sahabat terbaikku [yang hingga saat ini tetap belum berubah, tetap sebagai salah satu sahabat terbaikku],
CHRISTINA R. NAYOAN
Sedikit bernostalgia dengan kilatan memori masa lampau, menelusuri jejak perjalanan nafas hingga detik ini membuatku mengecap sedikit perasaan haru dan takjub akan berbagai hal yang pernah dipahatkan ke dalam cadas ingatan hamba-Mu ini. Perasaan inilah yang mengantarkan keinginan-ku saat ini untuk kembali mem-”bayar” hutang kepada salah seorang sahabat baikku yang takkan pernah aku lupakan.
Salam buat kamu Na, semoga keadaan kamu selalu jadi yang terbaik.
Maaf kalau baru saat ini aku tuliskan surat ini untuk kamu. Tujuan-ku buat tulisan ini lebih untuk menghormati keberadaan kamu, serta sedikit “membayar” hutangku untuk menuliskan beberapa percik senarai kata untuk kau baca. Surat kamu ternyata hingga saat ini belum terkirimkan. Mohon maaf ya na, sekali lagi maaf. Aku kira surat itu sudah terkirim, tapi ternyata masih terselip di tengah-tengah tumpukan berbagai dokumen yang ada di kamarku. aku pasti [insya ALLAH] akan mengirimkan surat yang sebenarnya, tulisan tangan-ku sendiri, khusus untuk kau baca, tapi setidaknya tulisan ini dapat menjadi sedikit pengantar untuk mengingatkan bahwa seorang Didik Achmadi masih mengingatmu tanpa terkecuali seperti masa dahulu.
Semoga kamu tetap menjadi wanita yang secara penuh bisa mengabdikan berbagai cakupan ilmu yang telah kau pelajari sebelumnya serta mengamalkannya demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat sekitar serta lingkungan yang jauh lebih luas. Aku sangat yakin, dengan kemauan dan kemandirian yang telah kau tunjukkan, serta ditunjang kecerdasan alamiah yang kau miliki, pasti mahasiswa-mu bisa mendapatkan ilmu dengan cara mereka sendiri.
Hampir tiga tahun sepertinya sejak keberangkatanmu ke daerah timur negara ini pertama kalinya. Tidak terasa telah berpuluh purnama melewati masa-masa tersebut, pasti banyak hal telah terjadi selama perjalanan mengiringi tapak langkah sang waktu, lengkap dengan segala ungkapan tawa, tangis, jerit dan gejolak hati yang tak terhitung banyaknya bila dibandingkan dengan setiap lekuk dan tonjolan di tubuh kita [jangan berpikir yang bukan-bukan yah.. :p].
Kilas terakhir pertemuan kita masih dapat aku ingat dengan jelas tanpa perlu berkerut kening dan menggaruk-garuk kepala. Namun fragmen-fragmen yang kita perbincangkan saat itu mulai lepas satu persatu dari lembar sel memori di otak yang semakin tua ini. Tua ?? ya, kita bertambah tua kan, semakin berkurang umur kita, semakin bertambah kedewasaan diri kita [semoga… ] ………………
Satu hal yang perlu untuk diketahui adalah saat ini sebagian beban besar bernama “perkuliahan” sudah melepaskan cengkeraman dirinya dari “sukma” ini. Amanat orang tua [yang sebenarnya kurang aku sukai iklimnya] telah berhasil aku selesaikan, meskipun langkahnya terbilang “tidak lazim” bagi orang-orang pada umumnya. Namun begitu, aku sangat menikmati ketidaklazimanku selama ini, aku yakin dengan pasti bahwa segala hal yang tidak lazim, atau bahkan yang kurang lazim di masyarakat akan mendapatkan persepsi yang [sebagian besar] cukup miring di mata dan impuls pikiran orang-orang tersebut. Bahkan, aku selalu mendambakan untuk menjadi sosok yang tidak lazim di tengah-tengah masyarakat luas.
Tapi kenapa ?? kenapa Didik mau menjadi orang yang “tidak lazim” ?? Sering sekali pertanyaan tersebut melintas menghujani aliran informasi di panca inderaku. Mungkin kamu sendiri juga akan mengungkapkan pertanyaan seperti itu (correct me if i’m wrong / CMIIW) :p. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, aku minta kamu sedikit mengulang lintasan film di ingatanmu yang berisikan tentang seorang rakyat jelata bernama “Didik Achmadi”. Ingat -ingatlah berbagai fragmen kecil yang mengisyaratkan bahwa sahabatmu ini [mungkin] dipersiapkan untuk menjadi orang yang “kurang lazim” di tengah - tengah budaya mapan di masyarakat. Ingatlah bahwa sobatmu yang fakir ilmu ini terkadang mengungkapkan sesuat dengan cara pandang yang mungkin terbilang “nyeleneh” dan terlalu bersifat hiperbolis. Ingatlah berbagai kejadian tersebut, karena hanya orang-orang yang mampu untuk mencermati langkah-ku lah yang pasti akan memahami ketidaklazimanku. Aku yakin nurani-mu dapat menjawab pertanyaan tentang ketidaklazimanku, karena ketulusanmu selalu dapat aku andalkan hingga saat ini, meskipun jarak dan waktu interaksi kita sangatlah panjang tapi aku tetap dapat merasakan ketulusan nuranimu hingga saat ini.
Hingga detik ini aku masih berusaha untuk mewujudkan salah satu impianku untuk menjadikan kondisi pendidikan di negara ini menjadi lebih baik dengan segala ilmu dan kemampuan yang telah aku miliki. Kenapa pendidikan ? karena aku yakin sepenuhnya bahwa bangsa ini dan segala isinya sebenarnya adalah sebuah berlian kasar, berlian yang terpecah-pecah dan terbungkus berbagai kerak kotor yang telah melekat erat, bahkan hampir menjadi satu dengan inti keindahan tiada tara tersebut. Kamu masih menjadi pendekar pendidikan kan Na ? kalau masih , berarti kita masih berada di jalan yang [mungkin] searah, semoga saja untuk waktu-waktu mendatang kita bisa saling membantu, menyumbangkan kemampuan kita satu sama lain, semoga…………………………
Cara yang aku tempuh dalam mewujudkan misi-ku ini masih terbilang baru untuk takaran pola pikir masyarakat luas saat ini, bahkan aku pernah ditertawakan dan dikatakan mustahil saat mencoba menceritakan sedikit buah pikir-ku ini kepada salah seorang kawan baik. Tapi aku yakin, suatu saat nanti hal-hal inilah yang akan menjadi dasar setiap tindakan kita, hal-hal tersebut akan menjadi nafas kehidupan kita sehari-hari. Kelak karya ini bukan merupakan sesuatu yang harus ditakuti, bahkan akan menjadi nafas kehidupan setiap orang di dunia.
Mungkin untuk saat ini sedikit “curah pikir” yang sekedarnya ini dapat mengawali silaturahmi kita yang sempat terputus untuk waktu yang sangat lama sekali. Sebagai penutup aku mengucap maaf , maaf dan sekali lagi maaf untuk segala kealpaanku [yang masih tetap belum berubah] akan segala hal yang mungkin saja membuat hatimu menjadi tergores, bahkan terluka.
Salam hangat selalu, juga untuk belahan jiwamu [Tini] serta seluruh keluarga besar dan sahabat-sahabatmu.
Didik Achmadi
October 1, 2005
Kira - kira 5 menit yang lalu dapet sms dari orang yang mengaku namanya DEPKOMINFO. tulisannya macem gini nih.
BBM terpaksa dinaikkan, agar subsidi dapat dialihkan dari orang kaya kepada rakyat miskin. Bantu awasi SUBSIDI TUNAI kepada rakyat miskin. Terimaksih.DEPKOMINFO
Sender:
DEPKOMINFO
Nah.. SMS macem gini dulu pernah dilakukan juga oleh presiden kita SBY. Pertanyaan yang sama terulang dan teutep belum terjawab.
1. Darimana pihak DEPKOMINFO (mis. yang kirim bener2 depkominfo) dapet nomer henpon saya ?
2. Apakah ini diacak atau khusus ditujukan kepada nomer2 tertentu saja ? Kebetulan nomer yang saya pakai adalah pasca bayar, meskipun tercatat oleh telco’s provider ybs, tetep saja mereka gak bisa memberikan akses nomer saya secara bebas. Kalau misal disalahgunakan bagaimana ?
3. Kalau misal nomer pra-bayar juga ikut kena kirim, apakah proses penyebaran SMS tersebut secara acak ? bila acak berapa jumlah SMS yang terkirimkan, hubungannya entar ke duit dong….
4. Berapa duit yang dialokasikan untuk mengirimkan SMS massal seperti ini ? Apa gak lebih baik kalo duit buat publisitas ini dialihkan buat subsidi ke masyarakat miskin ?
5. Atau apakah ini hanya trend sesaat ???
Template ini dibikin oleh orang laen. Tapi dipake oleh
Didik Achmadi
Mo kirim e-mail ? Ke
aja....