| Kira – kira hampir dua minggu yang lalu kantor kita ngadain pelatihan internet dasar buat anak – anak sma. Jumlahnya sekitar 20-an orang. Semuanya masih kelas 11 atau kelas 2 sma, tingkat pemahaman dari merekapun sangat bervariasi. Ada yang sudah terbilang mahir pake internet, tapi ada juga yang masih “grotal – gratul” (itu salah satu istilah dalam bahasa jawa yang berarti amburadul). Hal – hal seperti ini kadang – kadang bikin aku jadi agak enggak ngeh dengan kondisi yang sekarang lagi kejadian di negaraku tercinta, INDONESIA…………………………………. | ![]() |
Kadang – kadang aku sempet heran juga dengan kondisi di negaraku, boong banget kalau ada yang bilang negara Indonesia tuh miskin, BOONG BANGET !!!.. Gak percaya ?? coba liat aja di kota – kota besar, berapa banyak bangunan megah yang sedang dibangun, berapa kali dalam 1 jam liat mobil – mobil eksklusif lewat di sekitar kita, pernah ngitung biaya yang dikeluarin buat masuk kuliah ? Itu semuanya butuhin duit yang jelas nggak sedikit.
| So.. .??? disisi lain akhir – akhir ini aku sering ngeliat para ibu – ibu di kampung – kampung yang lagi ngantri beli minyak tanah, mbah putri aja bilang masak hari gini masih kayak jaman penjajahan. Trus kalo ada kejadian seperti ini, siapa yang musti bertanggung jawab? Siapa ?? Ada beberapa pendapat yang mengatakan ini bukan salah siapa – siapa, kalau ada sesuatu yang miss, seharusnya dicari solusinya saja, jangan dipermasalahkan orangnya. Ada benarnya juga sih pendapat seperti itu, membangun lebih baik daripada saling menyalahkan, tapi orang yang menyebabkan hal ini dapat terjadi harus bertanggung jawab, benar, TANGGUNG JAWAB !!!!! Gak mungkin ada asap kalau enggak ada api kan ?? |
![]() |
Jadi, mungkin (menurut aku) istilah yang bener buat kondisi negaraku tuh bukan kemiskinan tapi kekayaan yang tidak (atau belum) merata untuk seluruh rakyat. Hampir setiap hari aku ngeliat pemulung dan peminta – minta di tepi jalan, terutama di dekat traffic light. Kondisi merekapun teramat sangat bervariasi, mulai dari anak kecil hingga orang tua yang cukup renta, perempuan, buta pula. Aku selalu miris kalau melihat nenek buta tersebut, biasanya aku ngeliat di dekat pasar johar, di perempatan jalan pemuda – johar. Jelas aku GAK BISA TERIMA kalau misal dia masih punya keluarga, terus dibiarin saja kondisinya kayak gitu, jadi peminta – minta di usia dan kondisi fisik en psikis yang jelas sudah saatnya untuk “istirahat”. Aku enggak bisa bayangkan gimana entar tempatnya tuh anak gak tau terima kasih kelak di neraka, bayangin aja gak berani saking takutnya, apalagi ngejalaninnya, Hii…… !!!! Na’udzubillahi mindzalik !
Sempat juga sih pikiranku yang masih “cethek” ini merasakan bahwa negara telah berbuat dzalim terhadap rakyat yang menjadi amanat dari Tuhan YME, Allah swt. (Daku seorang muslim, dalam taraf menjadi seorang muslim yang taat, so… sah – sah aja kan kalo aku bilang sesuai sudut pandangku sebagai muslim. Don’t worry, I always have a good tolerance to any other religion beside Islam). Gimana gak dzalim, ada beberapa pejabat (padahal levelnya belum nasional, apalagi internasional, bahkan masih level kelurahan / kecamatan), yang jelas – jelas membiarkan kemaksiatan dan ketidakadilan terjadi di depan dia. Atau bahkan mereka turut melegitimasi hal tersebut. Butuh bukti ? lihat aja di kantor pemerintahan, mana aja. Kalau kita mau mengurus surat – surat, pasti ada saja salah satu “keparat pegawai” (maaf, seharusnya kata – kata sebelumnya adalah “aparat pegawai”) pemerintah yang meminta uang untuk dalih berbagai macam. Entah itu sumbangan sukarela, atau bahkan sampai dengan paksaan supaya dokumen yang akan diuruskan dapat diproses, bila tidak diberi dokumen tersebut akan mereka tahan sampai waktu tak terdifinisi (anjring kurap!!!).
Bahkan pada suatu waktu salah satu temenku kehilangan handphone-nya akibat ditipu oleh seseorang tak dikenal di mall, waktu mengurus kehilangan di kantor kepolisian pun diminta untuk menyerahkan “uang sukarela”. Udah kehilangan hendphone, lapor polisi dipalak pula. Masih mending kalo handphone-nya bisa balik ato sukur – sukur pelakunya ketangkep. Ini udah 1 taon lebih (kayaknya sih) tuh handphone + pencolengnya melenggang santai tanpa bekas. Peribahasan “Udah Jatuh Ketimpa Tangga” kayaknya cocok banget deh buat jadi ilustrasi cerita ini.
Itu baru salah satu contoh aja. Dan saya yakin masih banyak banget kebobrokan lainnya yang jelas gak mungkin saya tulis disini, kalau semua masalah – masalah tersebut diarsip, mungkin totalnya bisa jadi satu perpustakaan sendiri (mungkin aja khan …). Temen gue di kampung gajah, si FAHMI, pernah nulis di blognya kalo dia hampir saja kena rampok di atas bis kota di kota metropolitan sono. Dia juga pernah tereak – tereak kepada para “ berwajib” supaya lebih becus ngurusin hal – hal yang berhubungan dengan civil services terlebih dahulu sebelum ngurusin teroris segala rupa. Lha logikanya bener juga sih, kalo kondisi internal udah bagus khan keluarnya en ngurusin hal – hal gede macem gitu pastinya jauhhhhh lebih mudah buanget !
Semoga negaraku bisa jauh lebih baik kondisinya daripada hari – hari sebelumnya. Seperti kata – kata bijak bahwa :
Orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin adalah orang yang merugi.
Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang sia – sia.
Orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung.
Aku selalu berdoa dan berharap semoga kondisi negaraku bisa menjadi “BERUNTUNG” selamanya. Amiinn……….



